FOTO-FOTO WANITA BERSAMA CALEG



Di saat sebagian calon anggota legislatif (caleg) stres berat karena gagal melangkah ke Gedung DPR Senayan, Jakarta, muncul foto yang disebut-sebut mirip seorang calon wakil rakyat, yang diduga gemar mengoleksi sejumlah wanita cantik untuk dijadikan pelampiasan diri.
Di dunia maya beredar 16 foto seorang laki-laki berumur sekitar 55 tahun bermesraan dengan beberapa perempuan. Menurut si pemasang foto, pria tersebut merupakan caleg dari sebuah partai yang tengah melejit perolehan suaranya.

Laki-laki yang satu ini, lagi-lagi menurut si pemasang foto, hobi berhura-hura dengan para wanita penghibur (wanita malam) di kawasan Jalan Hayam Wuruk dan Manggabesar, Jakarta Barat. Dia juga memiliki kebiasaan mengabadikan adegan mesra dengan pasangannya.

Pada salah satu foto hot tersebut terlihat, lelaki yang pantas menjadi ayah dari para wanita penghibur itu terkesan sangat menikmati kebersamaan dengan pasangan mesumnya.

Diperkirakan sekitar 25 persen caleg yang bertempur di pileg kini sedang stres berat. Pasalnya, bukan hanya harta yang dipertaruhkan tapi rasa malu dan kecewa juga sedang menghantui hati para caleg yang kalah dalam pertarungan politik 9 April silam.

Direkayasa

Secara terpisah, Sekjen DPP Partai Demokrat Marzuki Alie mengatakan ia tidak tahu mengenai foto seorang caleg yang tengah bermesraan dengan sejumlah perempuan. Menurut Marzuki, foto itu hanya direkayasa oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

”Wah, kalau foto orang lain buat apa saya lihat. Kecuali itu foto saya. Dan yang pasti, itu foto hasil rekayasa saja,” ujar Marzuki kepada Warta Kota, Minggu (12/4).

Bagaimana jika pria di foto itu caleg Partai Demokrat? Marzuki mengatakan, penyebaran foto yang diklaim foto seorang caleg itu hanya ulah orang iseng dan tidak etis. ”Hanya untuk menjelek-jelekkan saja,” ujarnya.

”Ya belum tentu dari partai kami. Sekarang ini posisi Partai Demokrat belum menang. Banyak juga suara Partai Demokrat yang dicurangi,” tambahnya.

Akan diteliti

Pakar telematika Roy Suryo yang juga caleg Partai Demokrat mengaku akan meneliti foto-foto syur tersebut untuk mengetahui apakah foto itu benar seorang caleg dari partainya atau bukan. Namun, sampai berita ini diturunkan, semalam pukul 23.30, Roy belum dapat menanggapinya secara detail.

”Maaf, Mas, saya kebetulan sejak jam 19.00-an tadi masih ada acara tasyakuran di Jogja sehingga belum sempat buka internet. Coba nanti malam. Terima kasih,” tulis Roy Suryo melalui pesan singkat (SMS)-nya yang dikirim ke Warta Kota.

Sebelumnya dalam percakapan awal mengenai foto-foto mesum ini, Roy Suryo juga mengatakan ada kemungkinan foto-foto tersebut hasil rekayasa. Sedangkan penyebaran foto tersebut merupakan kampanye hitam guna menjatuhkan partainya. ”Yah, nanti saya teliti dulu ya, benar atau tidaknya,” katanya.

Sementara itu, caleg JD yang tertangkap petugas Satpol PP bersama seorang perempuan di Hotel Citra, Gorontalo, Senin (6/4) pekan lalu akan dipecat dari Partai Golkar.

”Selain dipecat dari keanggotaan partai, kami juga akan membatalkan pencalonannya sebagai caleg Partai Golkar,” kata Ketua DPD Partai Golkar Kota Gorontalo Adhan Dambea.

Dia menegaskan, partai yang dipimpinnya dipermalukan dengan ulah JD yang kini juga sedang menjabat sebagai Ketua Komisi A DPRD Kota Gorontalo itu. ”Ini benar-benar memalukan, selain dia anggota DPRD, dia juga caleg yang akan dipilih oleh rakyat kembali. Wakil rakyat seperti ini tak pantas untuk dipilih lagi,” ujarnya.

Adhan juga telah meminta Ketua DPRD Kota Gorontalo untuk mengganti JD sebagai Ketua Komisi A. JD tertangkap basah sedang tidur di sebuah kamar hotel kelas melati bersama seorang perempuan berinisial IK (23) yang sempat melarikan diri sebelum petugas Satpol PP menggeledah kamar.

Caleg stress

Di Kabupaten Garut, Jabar, ada indikasi kuat beberapa caleg mengalami stres berat. Bahkan, sempat terjadi dua caleg dari dua parpol berbeda marah besar sambil berteriak menghujat tim suksesnya.

Hal itu terjadi setelah keduanya diindikasikan telah menebar uang sebelum pemungutan suara pada salah satu TPS di wilayah Kecamatan Wanaraja, Garut. Namun, setelah dilakukan penghitungan suara, hasil sementara menunjukkan keok atau kalah telak sehingga sempat ditenangkan sekaligus diamankan pada Polsek setempat. Namun, kini telah dilepaskan kembali ke alam bebas.

Selain itu, terdapat salah seorang caleg perempuan dari parpol tertentu yang mendadak meninggal dunia setelah mengetahui hasil perolehan suara sementara bahwa dirinya kalah telak.

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Garut, Dadang Sudrajat, menyatakan, hendaknya seluruh caleg dari parpol mana pun bisa bersabar karena hingga kini masih berlangsung rekapitulasi penghitungan suara.

Kalau para caleg yang stres itu awalnya tidak berpengalaman berorganisasi, kemungkinan tidak mempunyai jiwa keikhlasan dalam perjuangan. Diduga mereka hanya mengejar ambisi dan harta.

Harta yang mereka keluarkan saat kampanye harus balik modal kalau sudah duduk di dewan.
Kemarin, sejumlah caleg untuk DPR dan DPRD Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, mulai stres setelah mengetahui tidak terpilih. Padahal, puluhan bahkan ratusan juta rupiah sudah dikeluarkan untuk kegiatan sosialisasi maupun pengadaan atribut pada masa kampanye.
sumber Kompas http://blog-artikel-menarik.blogspot.com/2009/04/foto-foto-wanita-nakal-bersama-caleg.html

CALEG KOLEKSI WANITA CANTIK

Senin, 13 April 2009 | 06:41 WIB

JAKARTA, WARTA KOTA - Di saat sebagian calon anggota legislatif (caleg) stres berat karena gagal melangkah ke Gedung DPR Senayan, Jakarta, muncul foto yang disebut-sebut mirip seorang calon wakil rakyat, yang diduga gemar mengoleksi sejumlah wanita cantik untuk dijadikan pelampiasan diri.
Di dunia maya beredar 16 foto seorang laki-laki berumur sekitar 55 tahun bermesraan dengan beberapa perempuan. Menurut si pemasang foto, pria tersebut merupakan caleg dari sebuah partai yang tengah melejit perolehan suaranya.

Laki-laki yang satu ini, lagi-lagi menurut si pemasang foto, hobi berhura-hura dengan para wanita penghibur (wanita malam) di kawasan Jalan Hayam Wuruk dan Manggabesar, Jakarta Barat. Dia juga memiliki kebiasaan mengabadikan adegan mesra dengan pasangannya.

Pada salah satu foto hot tersebut terlihat, lelaki yang pantas menjadi ayah dari para wanita penghibur itu terkesan sangat menikmati kebersamaan dengan pasangan mesumnya.

Diperkirakan sekitar 25 persen caleg yang bertempur di pileg kini sedang stres berat. Pasalnya, bukan hanya harta yang dipertaruhkan tapi rasa malu dan kecewa juga sedang menghantui hati para caleg yang kalah dalam pertarungan politik 9 April silam.
Direkayasa

Secara terpisah, Sekjen DPP Partai Demokrat Marzuki Alie mengatakan ia tidak tahu mengenai foto seorang caleg yang tengah bermesraan dengan sejumlah perempuan. Menurut Marzuki, foto itu hanya direkayasa oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

”Wah, kalau foto orang lain buat apa saya lihat. Kecuali itu foto saya. Dan yang pasti, itu foto hasil rekayasa saja,” ujar Marzuki kepada Warta Kota, Minggu (12/4).

Bagaimana jika pria di foto itu caleg Partai Demokrat? Marzuki mengatakan, penyebaran foto yang diklaim foto seorang caleg itu hanya ulah orang iseng dan tidak etis. ”Hanya untuk menjelek-jelekkan saja,” ujarnya.

”Ya belum tentu dari partai kami. Sekarang ini posisi Partai Demokrat belum menang. Banyak juga suara Partai Demokrat yang dicurangi,” tambahnya.

Akan diteliti

Pakar telematika Roy Suryo yang juga caleg Partai Demokrat mengaku akan meneliti foto-foto syur tersebut untuk mengetahui apakah foto itu benar seorang caleg dari partainya atau bukan. Namun, sampai berita ini diturunkan, semalam pukul 23.30, Roy belum dapat menanggapinya secara detail.

”Maaf, Mas, saya kebetulan sejak jam 19.00-an tadi masih ada acara tasyakuran di Jogja sehingga belum sempat buka internet. Coba nanti malam. Terima kasih,” tulis Roy Suryo melalui pesan singkat (SMS)-nya yang dikirim ke Warta Kota.

Sebelumnya dalam percakapan awal mengenai foto-foto mesum ini, Roy Suryo juga mengatakan ada kemungkinan foto-foto tersebut hasil rekayasa. Sedangkan penyebaran foto tersebut merupakan kampanye hitam guna menjatuhkan partainya. ”Yah, nanti saya teliti dulu ya, benar atau tidaknya,” katanya.

Sementara itu, caleg JD yang tertangkap petugas Satpol PP bersama seorang perempuan di Hotel Citra, Gorontalo, Senin (6/4) pekan lalu akan dipecat dari Partai Golkar.

”Selain dipecat dari keanggotaan partai, kami juga akan membatalkan pencalonannya sebagai caleg Partai Golkar,” kata Ketua DPD Partai Golkar Kota Gorontalo Adhan Dambea.

Dia menegaskan, partai yang dipimpinnya dipermalukan dengan ulah JD yang kini juga sedang menjabat sebagai Ketua Komisi A DPRD Kota Gorontalo itu. ”Ini benar-benar memalukan, selain dia anggota DPRD, dia juga caleg yang akan dipilih oleh rakyat kembali. Wakil rakyat seperti ini tak pantas untuk dipilih lagi,” ujarnya.

Adhan juga telah meminta Ketua DPRD Kota Gorontalo untuk mengganti JD sebagai Ketua Komisi A. JD tertangkap basah sedang tidur di sebuah kamar hotel kelas melati bersama seorang perempuan berinisial IK (23) yang sempat melarikan diri sebelum petugas Satpol PP menggeledah kamar.

Caleg stress

Di Kabupaten Garut, Jabar, ada indikasi kuat beberapa caleg mengalami stres berat. Bahkan, sempat terjadi dua caleg dari dua parpol berbeda marah besar sambil berteriak menghujat tim suksesnya.

Hal itu terjadi setelah keduanya diindikasikan telah menebar uang sebelum pemungutan suara pada salah satu TPS di wilayah Kecamatan Wanaraja, Garut. Namun, setelah dilakukan penghitungan suara, hasil sementara menunjukkan keok atau kalah telak sehingga sempat ditenangkan sekaligus diamankan pada Polsek setempat. Namun, kini telah dilepaskan kembali ke alam bebas.

Selain itu, terdapat salah seorang caleg perempuan dari parpol tertentu yang mendadak meninggal dunia setelah mengetahui hasil perolehan suara sementara bahwa dirinya kalah telak.

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Garut, Dadang Sudrajat, menyatakan, hendaknya seluruh caleg dari parpol mana pun bisa bersabar karena hingga kini masih berlangsung rekapitulasi penghitungan suara.

Kalau para caleg yang stres itu awalnya tidak berpengalaman berorganisasi, kemungkinan tidak mempunyai jiwa keikhlasan dalam perjuangan. Diduga mereka hanya mengejar ambisi dan harta.

Harta yang mereka keluarkan saat kampanye harus balik modal kalau sudah duduk di dewan.
Kemarin, sejumlah caleg untuk DPR dan DPRD Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, mulai stres setelah mengetahui tidak terpilih. Padahal, puluhan bahkan ratusan juta rupiah sudah dikeluarkan untuk kegiatan sosialisasi maupun pengadaan atribut pada masa kampanye.
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/04/13/06410273/caleg.koleksi.wanita.cantik

NUSAKAMBANGAN ISLAND

Nusakambangan, Perkawinan Eksotisme Wisata Penjara dan Alam Buana Katulistiwa - Pernahkah Anda membayangkan pengalaman menarik ini: bercengkerama dengan para narapidana “kelas wahid” , merasakan aroma palarian para residivis di alam aslinya, berburu bebatuan, menjelajahi gua dan cagar alam.
Kalau sekadar menikmati tantangan wisata alam, tentu saja sudah biasa. Tapi untuk kontak langsung dengan para narapidana atau melihat kehidupan di dalam terali besi, tentu Anda akan pikir-pikir dulu. Tapi, bagaimanapun, kalau Anda mau dan merasa tertantang dengan semua pengalaman baru ini, Pulau Nusakambangan adalah jawabannya.
Dan, harap maklum, pemandangan begini memang bukanlah hal yang ganjil lagi. Konon hal itu karena konsep pengembangan Pulau Nusakambangan yang bukan lagi mengunci dirinya dengan sebutan “Daerah Terlarang/Tertutup”, tapi daerah yang perlahan membuka diri bagi para wisatawan bahkan bagi penambangan bahan galian C di kawasan G Baturupit, misalnya.
Bahkan, selain menjadi lokasi wisata alternatif yang dilalui jalur wisatawan khususnya yang datang dari kawasan wisata Pangandaran, Jawa Barat, juga impian Pemda Cilacap, yang telah ditetapkan dalam RIPP sebagai salah satu kawasan wisata potensial.
Itu juga sebabnya mengapa setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu atau hari-hari libur lain, pulau ini cukup ramai dikunjungi wisatawan. Dan di Pantai Permisan, Anda akan disambut dengan kerumunan para narapidana yang menghabiskan masa asimilasi (tidak lagi “menginap” di dalam jeruji besi lembaga pemasyarakatan) dengan menjajakan barang dagangan seperti batu cincin.
Tak sulit memang. Anda hanya perlu membayar ongkos ferry Rp20.000,- per orang dari Wijayapura (Cilacap) ke Sodong (Nusakambangan). Ferry ini adalah kapal milik Depkum dan HAM. Kalau Anda membawa mobil, cukup dengan ongkos Rp 60.000,- per mobil. Tentu saja setelah pemeriksaan dulu di pos dermaga Sodong. Ongkos-ongkos tadi tentu saja tidak ditarik dari para petugas Lapas dan keluarganya yang setiap hari memang selalu hilir-mudik Cilacap-Nusakambangan.
Lepas dari Sodong, Anda akan dibawa kepada perburuan alam dan eksotisme bangunan-bangunan Lapas tua yang ada di sepanjang jalan sepi dengan aroma pepohanan yang rimbun. Menuju Lapas Batu, Anda juga bisa mampir melihat keunikan alam, yang memang banyak terdapat di pulau ini.
Mau pantai dengan pasir yang indah, Anda bisa melangsir ke Pantai Pasir Putih, Pantai Permisan atau Pantai Gareman. Mau menelusuri gua, silakan datang ke Gua Ratu, Gua Merah, Gua Ular, Gua Rangkung, Gua Macan, Gua Salak, Gua Masigit Sela dan Gua Maria. Atau mau mandi di Pemandian Brambang, dan menikmati sejuknya hutan alami di Cagar Alam.
Di sana-sini, Anda akan menemukan beberapa bangunan Lapas tua yang sudah rontok pasti memancing rasa ingin tahu mengenai sejarahnya.
Sebagaimana dijelaskan Kalapas Batu ,yang juga Koordinator Lapas-lapas yang ada di Nusakambangan, Drs Prianto Sudijanto belum lama ini, sejak zaman Belanda, ada sembilan Lapas di pulau ini, yaitu Lapas Karang Tengah (Dibangun 1927), Lapas Gliger (1925), Lapas Limus Buntu (1935), Lapas Nirbaya (1912), Lapas Batu (1935), Lapas Besi (1927), Lapas Kembang Kuning (1950), Lapas Permisan (1928) dan Lapas Karang Anyar (1912).
Kesembilan Lapas ini dibangun tersebar dari bagian Timur ke bagian Barat pulau yang berluas sekitar 21.000 hektar dan menjadi milik Departemen Van Justitie yang pengawasannya dan pengelolaannya langsung di bawah kewenangan Menteri Kehakiman dan HAM. Hal ini berdasarkan Ordonansi Staatblad Nomor 25 tanggal 10 Agustus 1912 dan Staatblad Nomor 34 tanggal 4 Juni 1937 yang ditandatangani Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Selain itu, Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 24 Juli 1922, dan dalam Berita Negara Hindia Belanda tahun 1928, menyebutkan bahwa keseluruhan Pulau Nusakambangan merupakan tempat penjara dan daerah terlarang.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, lima dari sembilan Lapas tadi sudah rontok, sehingga kini hanya tertinggal empat Lapas saja, yaitu Lapas Batu, Lapas Besi (Lapas Narkoba), Lapas Kembang Kuning dan Lapas Permisan. Seiring dengan itu pula, pada tanggal 27 April 1964 sistem kepenjaraan diubah menjadi sistem pemasyarakatan, serta istilah penjara diganti menjadi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
Sisa-sisa Lapas tua yang sudah rontok itu dibiarkan saja begitu, termasuk beberapa rumah tuanya, sehingga jika pengunjung melewati jalan dari Sodong ke Lapas Batu, Lapas Besi, terus ke Barat ke Lapas Kembang Kuning dan yang terjauh (sekitar 8 Km) Lapas Permisan, maka dapat disaksikan sisa-sisa bangunan itu menjadi pemandangan yang menarik.
Berdasarkan statistik, jumlah penghuni di Lapas Batu 206 orang (kapasitasnya 500 orang), terdiri dari hukuman mati (4 orang), seumur hidup (8 orang), GAM (26 orang). Hutomo Mandala Putra (Tommy) dan Bob Hasan (mantan) ada di Lapas ini. Lapas Besi 142 orang, hukuman mati (3 orang), seumur hidup (tidak ada). Satu dari tiga hukuman mati itu adalah warga negara Nigeria dalam kasus narkoba, Okwagili, yang selama 2,5 tahun di Lapas yang dipimpin Ilham Djaya ini, menghabiskan waktunya dengan menciptakan 21 lagu-lagu rohani berbahasa Inggris yang kini sedang dirilis di Jakarta.
Di Lapas Kembang Kuning 155 orang, dengan hukuman mati (2 orang), seumur hidup (1 orang), GAM (20 orang), korupsi (5 orang). Sedang di Lapas Permisan, 171 orang, dengan hukuman mati (3 orang).
Pemerintah sendiri rupanya memiliki rencana yang lebih ekstensif lagi untuk menggunakan Nusakambangan sebagai pulau “penjara”, antara lain dengan berusaha membangun tiga Lapas baru, diantaranya Lapas terbuka dan Lapas Super Maximum Security (SMS) yang diperuntukkan bagi pelaku kejahatan yang memerlukan pengamanan super ketat.
Tak dapat disangkal, keberadaan Pulau Nusakambangan ini menjadi sangat menarik untuk digali lebih jauh sebagai sebuah destinasi wisata. Seperti disebutkan terdahulu bangunan-bangunan penjara tua yang bertebaran di sepanjang jalan itu misalnya memang menjadi situs-situs wisata Lapas asli, termasuk berbagai peninggalan lain seperti Mercusuar atau menara jaga, rumah-rumah lama, yang mengandung konten pendidikan yang tinggi nilainya. Namun, sayangnya, perlu diperlengkapi, misalnya dengan pencantuman berbagai keterangan, soal sejarah, siapa saja mantan penghuni, bagaimana kejadian-kejadian menarik pernah terjadi dan seterusnya.
Demikian pula dengan keberadaan para narapidana yang dibiarkan lepas di sekitar Nusakambangan untuk menjalani proses asimilasi atau sosialisasi setelah menjalani hukuman lebih ? masa hukuman di dalam sel. Hal ini memang memberikan pemandangan asli yang menarik, namun perlu menjadi perhatian khusus menyangkut kenyamanan kunjungan, terutama jika para narapidana itu dibiarkan melakukan sedikit pemaksaan bagi pengunjung untuk membeli bebatuan cincin yang merupakan salah satu alternatif kesibukan mereka sebelum pulang.
Terakhir, para pengusaha wisata seharusnya saat ini sudah harus membidik pulau ini sebagai sebuah destinasi yang pantas untuk dikembangkan, antara lain dengan penyusunan paket yang menantang, dengan menggandeng pihak Depkum dan HAM serta Pemda Cilacap untuk mengembangkannya. Termasuk, misalnya, menindak lanjuti pendirian berbagai fasilitas pendukung seperti sekolah tinggi khusus masalah pemasyarakatan di sana termasuk para pendukungnya. Hal itu akan membuat wisata ini menjadi semakin bermakna dan menarik sebagai wisata pendidikan. (bj)

http://www.geografiana.com/nasional/wisata/nusakambangan-perkawinan-eksotisme-wisata-penjara-dan-alam-3


http://chulay.webs.com/

MENELUSURI SEJARAH KAMPUNG LAUT


Kampung Laut adalah sebutan untuk seluruh pemukiman yang berada di Segara Anakan, yaitu kawasan perairan yang terletak di antara daratan Cilacap sebelah Barat dengan Pulau Nusakambangan
Sejarah dan Pola Pemukiman

Menurut cerita rakyat yang sampai sekarang masih dipercaya kebenarannya oleh masyarakat setempat. Penduduk asli Kampung Laut adalah anak keturunan dari para prajurit Mataram. Para prajurit Mataram pada waktu itu datang ke daerah Kampung Laut untuk mengamankan daerah perairan Segara Anakan dari gangguan bajak laut orang Portugis. Para prajurit itu dipimpin oleh empat orang wiratamtama, yaitu yang bernama Jaga Playa, Jaga Praya, Jaga Resmi dan Jaga Laut. Berkat kesaktian dari para wiratamtama itu maka perairan Cilacap dan Segara Anakan akhirnya aman, bebas dari gangguan bajak laut.

Setelah keadaan aman, ternyata para wiratamtama dan anak buahnya itu tidak mau kembali ke pusat kerajaan Mataram, melainkan tetap tinggal di kawasan Cilacap dan sekitarnya misalnya Jaga Playa dan Jaga Praya kemudian bermukim di daerah yang sekarang disebut Klapalima, sementara itu Jaga Resmi dan Jaga Laut memilih tinggal di Pulau Nusakambangan. Jaga Resmi bermukim di daerah yang kini disebut Legok Pari, sedangkan Jaga Laut bertempat tinggal di Gebang Kuning atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kembang Kuning.

Ketika supremasi Kerajaan Mataram makin melemah dan akhirnya dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda, banyak daerah yang tadinya merupakan daerah kekuasaan Mataram, beralih menjadi kekuasaan Hindia Belanda. Demikian Cilacap dan Nusakambangan waktu itu juga di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda dipilih untuk pembuangan orang-orang yang dianggap melanggar hukum dan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

Para narapidana yang ada di Nusakambangan waktu itu belum diurus dengan baik oleh pemerintah Hindia Belanda, sehingga tidak sedikit dari mereka yang mengganggu penghuni-penghuni Pulau Nusakambangan sebelumnya, yaitu anak-anak keturunan Jaga resmi dan Jaga Laut dan anak buahnya. Karena itu mereka lalu menyingkir dari Pulau Nusakambangan, dan membuat rumah-rumah tempat tinggal mereka di laut Segara Anakan. Di Segara Anakan ini kemudian berdiri kelompok-kelompok pemukiman yang berupa kumpulan rumah tinggal, rumah tinggal yang berujud rumah panggung. Sejalan dengan perkembangan jaman, masing-masing kelompok perumahan itu makin berkembang, sehingga akhirnya membentuk sesuatu kampung. Kampung-kampung seperti itu tersebar di kawasan Segara Anakan. Karena kampung-kampung itu berada di perairan laut ( Segara Anakan ), maka kemudian disebut Kampung Laut. Nama lain dari Kampung Laut adalah Bejagan atau Pejagan. Nama ini juga terkait dengan cerita diatas, bahwa Segara Anakan adalah tempat para prajurit kerajaan Mataram melakukan penjagaan agar daerah ini aman, bebas dari gangguan para bajk laut.

Pada masa kemerdekaan, beberapa perkampungan yang saling berdekatan bergabung menjadi suatu kelurahan atau desa. Secara administratif Kampung Laut sekarang terbagi menjadi tiga wilayah desa, yaitu Ujungalang, yang terletak di Selatan, Ujunggagak atau Karanganyar disebelah barat dan Panikel yang berada di Sebelah Utara.

Hingga tahun 1970 an sampai awal tahun 1980 an rumah-rumah tempat tinggal di Kampung Laut masih berupa rumah panggung. Rumah-rumah itu wujudnya seperti rumah-rumah Jawa pada umumnya, yaitu berbentuk segi empat dengan atap model Kampung Srotong atau Limasan, dibangun di atas tiang-tiang kayu tancang. Tinggi tiang-tiang penopang ini berkisar antara 4 hingga 7 meter, yang ditancapkan ke dasar laut pada waktu air surut. Kerangka rumah umumnya terbuat dari kayu tancang, yang waktu itu mudah didapat di hutan-hutan bakau. Ada juga yang menggunakan balok atau papan kayu laban atau jenis kayu yang lain yang dapat diperoleh dari Nusakambangan. Lantai dan kerangka atap (kaso dan reng) umumnya juga dari kayu tancang, yang berukuran kecil dan lurus-lurus. Dinding rumah cukup bervariasi. Ada yang terbuat dari papan kayu atau gebyok, ada yang terbuat dari bamboo yang dianyam, atau ada pula yang berupa welit atau kajang, yaitu anyaman daun nipah. Atap umumnya berupa welit daun nipah atau seng. Atap genteng tidak disukai karena berat. Pola letak perumahan umumnya berderet memanjang. Bila ada dua deret, maka rumah-rumah yang ada di deret yang satu, akan dibangun menghadap pada deret yang lain, dan diantara dua deret rumah itu ada jalur jalan seperti jembatan, yang juga terbuat dari kayu. Suatu kampung dapat terdiri dari 4 deret rumah atau lebih.

Menjelang tahun 1980-an rumah-rumah panggung seperti tersebut di atas makin menghilang. Penyebabnya, kecuali orang makin sulit mendapatkan kayu tancang atau kayu-kayu jenis lain yang dipandang baik untuk bangunan rumah, juga makin cepatnya laju pendangkalan laut sebagai akibat dari sedimentasi Lumpur yang setiap saat ditumpukkan oleh sunga0sungai yang ada di sebelah Utara Segara Anakan. Menghadapi situasi yang demikian itu, ada orang yang tidak mengganti tiang-tiang penopang rumahnya yang rusak dengan kayu, emalinkan kemudian meguruk kolong rumah panggungnya dengan tanah yang diambil dari Nusakambangan atau memanfaatkan tanah timbul. Sedikit demi sedikit, kolong rumah yang tadinya berupa ruangan yang berair, makin terisi dengan tanah. Akhirnya seluruh kolong rumah terisi dengan tanah. Keberhasilan menguruk kolong-kolong rumah itu kemudian ditiru oleh seluruh warga kampung. Bahkan kolong-kolong jembatan yang untuk jalan, secara gotong royong juga diurug, sehingga akhirnya seluruh areal tempat pemukiman itu menjadi daratan. Dewasa ini sudah sulit untuk mendapatkan rumah panggung yang berdiri di atas air laut.

Bentuk atau model bangunan rumahpun banyak yang berubah, berganti dengan bentuk atau model rumah-rumah modern sebagaimana yang terdapat di kota-kota. Bahan-bahan bangunan rumah tidak lagi didominasi oleh bahan kayu. Bahan kayu umumnya hanya untuk kerangka atap dan kusen-kusen. Lantai yang dulu kayu sekarang telah diganti dengan semen atau keramik. Demikian pula dindingnya. Atap yang dulu berupa seng atau welit, sekarang umumnya berupa genteng dari tanah liat.

Walaupun dalam bentuk dan bahan bangunan rumah telah banyak mengalami perubahan, tetapi dalam pola tata letak perumahan, terutama di pemukiman-pemukiman yang penghuninya yang bermata pencaharian sebagai nelayan, masih banyak yang mengikuti pola lama. Seperti telah disebutkan diatas, pola tata letak perumahan model lama adalah pola berderet. Dalam satu deret rumah-rumah menghadap kea rah yang sama. Dihadapan rumah-rumah itu ada jalan umum. Jalan ini juga akan menajdi patokan untuk menghadapkan rumah-rumah yang berada di deret di hadapannya, sehingga terbentuk pola tata letak perumahan dua deret dimana tengahnya terbentang jalur jalan umum.

Untuk kepentingan kemudahan tranportasi air, dibelakang rumah-rumah yang berderet itu dibuat saluran air atau parit yang menghubungkan pemukiman itu ke laut. Dermaga-dermaga kecil terletak dibelakang rumah-rumah tinggal. Jadi kalau jalan darat berada di antara dua deret rumah yang saling membelakang (Ungkur-ungkuran, red : Bahasa Jawa ).

Kondisi Geografis dan Ekologis

Secara geografis posisi Kampung Laut atau Segara Anakan berada di sebelah Barat Kota Cilacap. Untuk menuju ke daerah itu kita dapat menggunakan perahu motor atau compreng, angkutan umum dari pelabuhan Sleko Cilacap. Untuk sampai di desa terdekat, yaitu Ujungalang, memakan waktu sekitar satu hingga dua jam.

Segara Anakan itu sendiri adalah suatu laguna yang dalam hubungannya dengan Samudera Hindia dipisahkan oleh pulau Nusakambangan. Akibat dari adanya Pulau Nusakambangan itu maka, keganasan ombak Samudera Hindia menjadi terhalang, sehingga keadaan perairan di Segara Anakan relatif tenang. Air laut Samudera Hindia masuk ke laguna ini melalui plawangan atau pintu selat Nusakambangan baik yang ada di ujung Timur maupun di ujung Barat. Di Segara Anakan, air laut Samudera Hindia itu bertemu dengan air tawar yang ditumpahkan oleh sungai-sungai yang mengalir dari daratan tinggi disebelah Utara, misalnya sungai Citandui, sungai Cibeureum, sungai Cikonde, sungai Cemeneng, dan lain-lain.

Sungai-sungai tersebut, kecuali memasok air tawar, juga terlebih pada waktu musim penghujan menumpahkan Lumpur-lumpur hasil erosi tanah daratan, ke Segara Anakan. Akibatnya, Segara Anakan makin hari makin bertambah dangkal. Di sana-sini kemudian muncul tanah timbul atau mud island. Ditanah timbul itu kemudian tumbuh tumbuhan dari jenis-jenis Mangrove. Kalau dulu sebelum tahun 1970-an desa Panikel yang berada di ujung Utara orang memandang ke Selatan, akan melihat secara jelas hutan di pulau Nusakambangan. Dari desa Panikel orang juga dapat melihat desa-desa lain seperti Muara Dua, Karanganyar, Majingklak, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi dapat dilihat, karena pemandangan telah terhalang oleh hutan-hutan mangrove yang tumbuh di areal-arela tanah timbul.

Tanah timbul adalah daratan baru yang terbentuk karena tingginya laju sedimentasi di Segara Anakan. Setiap saat, lebih-lebih pada musim penghujan, sungai-sungai yang bermuara di Segara Anakan selalu mengangkut Lumpur dari hasil erosi di daratan di sebelah Utara. Akibatnya, perairan Segara Anakan makin dangkal dan beberapa tempat dangkalan ini berubah menjadi daratan. Disinilah kemudian timbul hutan-hutan Mangrove.

Hutan Mangrove di Segara Anakan tergolong mempunyai diversitas vegetasi yang tinggi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Pusat Studi Asia Pasifik (PSAP) UGM tahun 2001 – 2002, menunjukan bahwa di suatu kawasan hutan Mangrove di Segara Anakan, dapat ditemukan sekitar 30 spesies tumbuhan. Beberapa tumbuhan yang terdapat di hutan Mangrove di wilayah ini antara lain adal api-api (jenis avicenia yaitu : Avicenia Alba, Avecinia Marina, dan Avecenia Oficenalis), Bogem (Sconneratia Alba), bakau (ada dua macam yaitu Rizophora, Mucronata dan Rozophora Apiculata), tancang (Bruguirea sp), Nyirih (Xylocarpus Granatum), Nyuruh (Carberaodolam), nipah (Nypa Fructicans) dan lain-lain. Disamping itu juga masih termasuk tumbuh-tumbuhan Mangrove adalah jenis-jenis perdu seperti jrajon (Acanthus Ilicifolius), jrujon lanang (Acanthus Sp), krakas (Scripus Aurium), prepatan (Scripus Grossus), gadelan (Derris Heterophylla), wlingi (Fimbristttylis Feruginea) dan lain-lain. Sebagai ekosistem pasang surut, ekosistem hutan Mangrove akan didominasi air laut ketika air pasang, dan ketika air surut yang dominant adalah air tawar. Dengan demikian, komoditas hutan Mangrove mempunyai toleransi yang lebar terhadap perubahan salinitas.

Hutan Mangrove di Segara Anakan merupakan habitat dari berbagai satwa liar. Kalau kita berlayar dengan menggunakan jakung (perahu kecil) atau compreng (perahu yang berukuran lebih besar yang dapat mengangkut belasan orang penumpang) menyusuri kanal-kanal di sela-sela hutan Mangrove yang oleh masyarakat setempat disebut kali atau lorongan. Ditempat itu kita sering berjumpa dengan berbagai satwa liar. Monyet-monyet yang bergelantungan dipohon bogem atau api-api, lingsang yang dengan lincahnya menyelam dan mengapung dia ir tepian kanal, atau berbagai jenis burung seperti bangau, kunthul, cikakak, supiturang yang berbulu indah dan lain-lain dapat kita temui.

Sementara itu, perairan yang ada dibawah hutan Mangrove dapat dikatakan merupakan ekosistem yang kaya akan berbagai jenis plangton dan komonitas benthik yang produktifitas hasil laut yang tinggi. Jenis-jenis pohon tertentu di hutan Mnagrove (misalnya pohon bakau) dengan bentuk akarnya yang khas dapat berfungsi sebagai rumpon yang merupakan tempat yang cocok untuk pemisahan satwa liar. Oleh sebab itulah oleh para ahli biologi perairan Segara Anakan dapat dikatakan sebagai daerah asuhan (nursery ground) misalnya untuk berbagai jenis ikan, udang dan kepiting. Segara Anakan yang mempunyai dua plawangan (pintu)yaitu plawawangan timur dan plawangan barat di kedua ujung Pulau Nusakambangan, membuat kawasan ini mempunyai hubungan perairan yang langsung dengan Samudera Hindia. Pada waktu yang lalu, saat kedalaman perairan Segara Anakan dan plawangan-plawangannya masih cukup dalam, ikan-ikan pengembara (migratory species) dari berbagai lautan, banyak yang singgah di Segara Anakan. Mereka bersama-sama ikan-ikan lokal yang lain dapat memperoleh makanan di Segara Anakan.

(Sumber : Dari Berbagai Sumber)
http://www.cilacapmedia.com/index.php?view=article&catid=14%3Abudaya&id=778%3Amenelusuri-sejarah-kampung-laut&tmpl=component&print=1&page=&option=com_content&Itemid=8

PEMIMPIN DEMONSTRAN KAOS MERAH DITANGKAP

Bangkok - Tekad Perdana Menteri (PM) Thailand Abhisit Vejjajiva memulihkan kondisi politik dan keamanan segera ditindaklanjuti. Pemimpin Demonstran Kaos Merah Ditangkap
yang antipemerintah itu ditangkap.

Salah satu pemimpin demo itu, Arisman Pongruangrong ditangkap pagi hari ini seperti dilansir dari situs Bangkok Post, Minggu (12/4/2009).

Ditahannya Arisman karena aksinya yang mencolok dalam memimpin demo kelompok kaos merah Himpunan Front Demokrasi melawan Kediktatoran (United Front of Democracy against Dictatorship/UDD).

Dia juga terlihat dalam garda depan demonstran, saat mengepung hotel tempat KTT ASEAN diadakan, di Royal Cliff Beach, Pattaya sementara pimpinan beberapa negara Asia berada di dalamnya.

Buntut dari aksi demosntran pro-Thaksin Sabtu kemarin itu membuat KTT ASEAN terpaksa dibatalkan. Beberapa pemimpin negara Asia dievakuasi dengan helikopter dari hotel itu.

Setelah insiden itu PM Abhisit langsung mengadakan rapat dengan para menteri di bidang pertahanan keamanan. Julukan 'musuh negara' pun langsung disematkan ke kelompok pro-Thaksin itu.

Sementara kelompok kaos merah pada saat yang sama berkumpul di luar Kantor Pemerintah, mengancam akan menimbulkan kekacauan baru di Bangkok.

Sedangkan mantan PM Thaksin Sinawatra pun memberikan dukungan bagi pendukungnya untuk mengadakan aksi antipemerintah berikutnya.

"Orang-orang kita di Bangkok dan seluruh provinsi dapat bergabung untuk mengubah negara," seru Thaksin.
http://www.detiknews.com/read/2009/04/12/145331/1114217/10/pemimpin-demonstran-kaos-merah-ditangkap

Operasional PPS Cilacap

My Photo

My Video's

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes