Ancaman PKS


SBY: Hak Parpol Keluar dari Koalisi
Bogor - Capres Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai ancaman Partai Keadilan Sejahtera (PKS) keluar dari koalisi parpol yang mengusungnya bila ia berduet lagi dengan Jusuf Kalla (JK) merupakan hak partai politik.
"Saya mendengar pandangan seperti itu. Itu hak teman-teman parpol menyatakan pendangannya," kata SBY dalam jumpa pers dengan wartawan di kediamannya, Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Minggu (19/4/2009).

SBY berjanji akan menetapkan pasangan cawapresnya dengan pertimbangan yang tepat. Presiden SBY juga mengaku tidak takut dengan kemungkinan muncul istilah matahari kembar dalam pemerintahan yang akan datang, bila kembali berhasil memenangkan Pilpres.

"Mengenai istilah jangan sampai ada dua matahari, itu tidak mungkin terjadi manakala masing-masing paham tentang tugas dan kewajibanya, memahami otoritas yang diatur dalan konstitusi, dll. Saya tak takut atau khawatir dengan kemungkinan matahari kembar atau dua matahari," kata SBY.
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/04/19/161026/1117752/700/sby-hak-parpol-keluar-dari-koalisi

KISRUH DPT


SBY Percaya Rakyat Arif dan Tak Mudah Dihasut
Kisruh Pemilu Legislatif 2009 yang berpangkal pada daftar pemilih tetap (DPT) diwacanakan akan berujung pada revolusi. Namun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) percaya rakyat bisa dengan arif menghadapi hasil pemilu dan tak bisa dihasut.
"Saya percaya pada aturan hukum. Rakyat kita jangan dipandang under estimate. Salah besar kalau menganggap rakyat tidak tahu dan mudah dihasut begitu saja. Rakyat semakin arif dan dewasa dalam berdemokrasi," ujar SBY.

SBY menyampaikan hal itu menanggapi pertanyaan wartawan tentang kemungkinan kisruh pemilu yang berujung revolusi, dalam jumpa pers di kediaman pribadinya, Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Minggu (19/4/2009).

Bukti dari arifnya rakyat, imbuh SBY, selama 8 bulan masa kampanye berjalan dengan aman dan tertib. SBY menambahkan, revolusi itu tidak bisa dibuat begitu saja.

"Pada tahun 1966 memang ada prakondisi yang menyebabkan negara ini harus berubah besar-besar. Lalu pada 1998-1999 ada revolusi damai itu kehendak rakyat. Nggak bisa muncul revolusi karena kehendak elit atau sebagian orang. Saya nggak terlalu tertarik bicara revolusi itu," papar SBY.

SBY pun mengajak untuk merawat pembangunan yang telah dilakukan sekian lama. "Kalau ada masalah diselesaikan dengan baik," ujarnya.
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/04/19/165613/1117774/700/sby-percaya-rakyat-arif-dan-tak-mudah-dihasut

Luna Maya Gerah Digossipkan Menikah



Artis cantik, Luna Maya, mengaku sangatlah gerah karena terus-menerus beredar gosip yang selalu tidak benar dari dirinya. Belakangan Luna digosipkan telah menikah dengan vokalis dari grup band Peter Pan, Ariel. Berita miring tersebut tersebar setelah sebuah tabloid ternama menerbitkan bahwa Luna dan Ariel telah menikah secara resmi di Ubud, Bali pada tanggal 8 April lalu.
Ketika dihubungi melalui telepon genggamnya secara eksklusif oleh team KapanLagi.com, Luna mengatakan bahwa berita tersebut sangatlah salah dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena di situ sama sekali tidak ada bukti yang akurat mengenai kabar pernikahan tersebut. Luna juga menantang dia akan memberikan bukti bahwa selama satu minggu terakhir ini dirinya tidak pernah meninggalkan Jakarta, dikarenakan jadwal syuting yang sangat padat.

“Berita di tabloid itu sudah ngaco! Gak benar! Kalau mau boleh tanya beberapa klien saya hari itu, bahkan satu minggu terakhir saya ada di mana”, tegas Luna.

Luna menambahkan, dia sangat kecewa terhadap tabloid yang menyiarkan kabar palsu tersebut, karena tanpa ada wawancara, mereka dengan mudah sudah menerbitkan berita miring tersebut. Luna juga mengatakan dirinya belum ada rencana untuk menikah, dan kalaupun ada, dia pasti akan mengabarkan berita gembira tersebut di depan khalayak ramai.

“Yang jelas belum pernah ada rencana mau menikah, kalaupun mau nikah pasti semua orang akan aku kasih tau. Aku ngga akan sembunyi-sembunyi kok!”, pungkas Luna.
http://lunamaya.kapanlagi.com/

Biografi Ahmad Yani


Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani (juga dieja Achmad Yani; lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 19 Juni 1922 – wafat di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 43 tahun) adalah seorang pahlawan revolusi dan nasional Indonesia.
Beliau dikenal sebagai seorang tentara yang selalu berseberangan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia).
Ketika menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat sejak tahun 1962, ia menolak keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani. Karena itulah beliau menjadi salah satu target PKI yang akan diculik dan dibunuh di antara tujuh petinggi TNI AD melalui G30S (Gerakan Tiga Puluh September). Ia ditembak di depan kamar tidurnya pada subuh 1 Oktober 1965. Mayatnya kemudian ditemukan di Lubang Buaya.[1]

Jabatan terakhir sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat(Men/Pangad) sejak tahun 1962.
Beliau dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Pendidikan

* HIS (setingkat SD) Bogor, tamat tahun 1935
* MULO (setingkat SMP) kelas B Afd. Bogor, tamat tahun 1938
* AMS (setingkat SMU) bagian B Afd. Jakarta, berhenti tahun 1940
* Pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang
* Pendidikan Heiho di Magelang
* PETA (Tentara Pembela Tanah Air) di Bogor
* Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, USA, tahun 1955
* Special Warfare Course di Inggris, tahun 1956

Bintang Kehormatan

* Bintang RI Kelas II
* Bintang Sakti
* Bintang Gerilya
* Bintang Sewindu Kemerdekaan I dan II
* Satyalancana Kesetyaan VII, XVI
* Satyalancana G: O.M. I dan VI
* Satyalancana Sapta Marga (PRRI)
* Satyalancana Irian Barat (Trikora)
* Ordenon Narodne Armije II Reda Yugoslavia (1958) dan lain-lain

http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Yani

Biografi Adam Malik


Adam Malik Batubara (lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 22 Juli 1917 – wafat di Bandung, Jawa Barat, 5 September 1984 pada umur 67 tahun) adalah mantan Menteri Indonesia pada beberapa Departemen, antara lain beliau pernah menjabat menjadi Menteri Luar Negeri. Beliau juga pernah menjadi Wakil Presiden Indonesia yang ketiga.
Ia merupakan personifikasi utuh dari kedekatan antara diplomasi dan media massa. Jangan kaget, kalau pria otodidak yang secara formal hanya tamatan SD (HIS) ini pernah menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York dan merupakan salah satu pendiri LKBN Antara. Kemahirannya memadukan diplomasi dan media massa menghantarkannya menimba berbagai pengalaman sebagai duta besar, menteri, Ketua DPR hingga menjadi wakil presiden.

Sang wartawan, politisi, dan diplomat kawakan, putera bangsa berdarah Batak bermarga Batubara, ini juga dikenal sebagai salah satu pelaku dan pengubah sejarah yang berperan penting dalam proses kemerdekaan Indonesia hingga proses pengisian kemerdekaan dalam dua rezim pemerintahan Soekarno dan Soeharto.

Pria cerdik berpostur kecil yang dijuluki ''si kancil” ini dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatra Utara, 22 Juli 1917 dari pasangan Haji Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis. Semenjak kecil ia gemar menonton film koboi, membaca, dan fotografi. Setelah lulus HIS, sang ayah menyuruhnya memimpin toko 'Murah', di seberang bioskop Deli. Di sela-sela kesibukan barunya itu, ia banyak membaca berbagai buku yang memperkaya pengetahuan dan wawasannya.

Ketika usianya masih belasan tahun, ia pernah ditahan polisi Dinas Intel Politik di Sipirok 1934 dan dihukum dua bulan penjara karena melanggar larangan berkumpul. Adam Malik pada usia 17 tahun telah menjadi ketua Partindo di Pematang Siantar (1934- 1935) untuk ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Keinginannya untuk maju dan berbakti kepada bangsa mendorong Adam Malik merantau ke Jakarta.

Pada usia 20 tahun, Adam Malik bersama dengan Soemanang, Sipahutar, Armin Pane, Abdul Hakim, dan Pandu Kartawiguna, memelopori berdirinya kantor berita Antara tahun 1937 berkantor di JI. Pinangsia 38 Jakarta Kota. Dengan modal satu meja tulis tua, satu mesin tulis tua, dan satu mesin roneo tua, mereka menyuplai berita ke berbagai surat kabar nasional. Sebelumnya, ia sudah sering menulis antara lain di koran Pelita Andalas dan Majalah Partindo.

Di zaman Jepang, Adam Malik aktif bergerilya dalam gerakan pemuda memperjuangkan kemerdekaan. Menjelang 17 Agustus 1945, bersama Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana, Adam Malik pernah melarikan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk memaksa mereka memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Demi mendukung kepemimpinan Soekarno-Hatta, ia menggerakkan rakyat berkumpul di lapangan Ikada, Jakarta. Mewakili kelompok pemuda, Adam Malik sebagai pimpinan Komite Van Aksi, terpilih sebagai Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (1945-1947) yang bertugas menyiapkan susunan pemerintahan. Selain itu, Adam Malik adalah pendiri dan anggota Partai Rakyat, pendiri Partai Murba, dan anggota parlemen.

Akhir tahun lima puluhan, atas penunjukan Soekarno, Adam Malik masuk ke pemerintahan menjadi duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Uni Soviet dan Polandia. Karena kemampuan diplomasinya, Adam Malik kemudian menjadi ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia-Belanda, untuk penyerahan Irian Barat di tahun 1962. Selesai perjuangan Irian Barat (Irian Jaya), Adam Malik memegang jabatan Menko Pelaksana Ekonomi Terpimpin (1965). Pada masa semakin menguatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia, Adam bersama Roeslan Abdulgani dan Jenderal Nasution dianggap sebagai musuh PKI dan dicap sebagai trio sayap kanan yang kontra-revolusi.

Ketika terjadi pergantian rezim pemerintahan Orde Lama, posisi Adam Malik yang berseberangan dengan kelompok kiri justru malah menguntungkannya. Tahun 1966, Adam disebut-sebut dalam trio baru Soeharto-Sultan-Malik. Pada tahun yang sama, lewat televisi, ia menyatakan keluar dari Partai Murba karena pendirian Partai Murba, yang menentang masuknya modal asing. Empat tahun kemudian, ia bergabung dengan Golkar. Sejak 1966 sampai 1977 ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II / Menlu ad Interim dan Menlu RI.

Sebagai Menlu dalam pemerintahan Orde Baru, Adam Malik berperanan penting dalam berbagai perundingan dengan negara-negara lain termasuk rescheduling utang Indonesia peninggalan Orde Lama. Bersama Menlu negara-negara ASEAN, Adam Malik memelopori terbentuknya ASEAN tahun 1967. Ia bahkan dipercaya menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York. Ia orang Asia kedua yang pernah memimpin sidang lembaga tertinggi badan dunia itu. Tahun 1977, ia terpilih menjadi Ketua DPR/MPR. Kemudian tiga bulan berikutnya, dalam Sidang Umum MPR Maret 1978 terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang ke-3 menggantikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang secara tiba-tiba menyatakan tidak bersedia dicalonkan lagi.

Beberapa tahun setelah menjabat wakil presiden, ia merasa kurang dapat berperan banyak. Maklum, ia seorang yang terbiasa lincah dan aktif tiba-tiba hanya berperan sesekali meresmikan proyek dan membuka seminar. Kemudian dalam beberapa kesempatan ia mengungkapkan kegalauan hatinya tentang feodalisme yang dianut pemimpin nasional. Ia menganalogikannya seperti tuan-tuan kebon.

Sebagai seorang diplomat, wartawan bahkan birokrat, ia seing mengatakan ‘semua bisa diatur”. Sebagai diplomat ia memang dikenal selalu mempunyai 1001 jawaban atas segala macam pertanyaan dan permasalahan yang dihadapkan kepadanya. Tapi perkataan ‘semua bisa diatur’ itu juga sekaligus sebagai lontaran kritik bahwa di negara ini ‘semua bisa di atur’ dengan uang.

Setelah mengabdikan diri demi bangsa dan negaranya, H.Adam Malik meninggal di Bandung pada 5 September 1984 karena kanker lever. Kemudian, isteri dan anak-anaknya mengabadikan namanya dengan mendirikan Museum Adam Malik. Pemerintah juga memberikan berbagai tanda kehormatan.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),

Operasional PPS Cilacap

My Photo

My Video's

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes